Rabu, 19 Desember 2012

Sejarah Agama Hindu


Oleh:
Faisal Wibowo
I. Pendahuluan 
Tidak bisa dipungkiri bahwa Agama Hindu tidak terlepas dari peradaban zaman India Kuno pada waktu itu. Peradaban yang dilatarbelakangi oleh adat istiadat dn kepercayaan-kepercayaan, sungguh menjadi khazanah wawasan keagamaan tersendiri bagi agama Hindu dan pemeluknya. 

Agama Hindu merupakan salah satu contoh agama yang kami angkat tema pada kali ini merupakan hasil dari sejarah. Dari pada itu sejarah merupakan hal yang mendasari segala aspek kehidupan. Pada kali ini kami ingin memaparkan secara sederhana tentang asal-usul Agama Hindu. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. 

II. Asal-usul Agama Hindu dan Pembawanya 
Agama Hindu (Bahasa Sanskerta: Sanātana Dharma सनातन धर्म "Kebenaran Abadi", dan Vaidika-Dharma ("Pengetahuan Kebenaran") adalah sebuah agama yang berasal dari anak benua India. Agama ini merupakan lanjutan dari agama Weda (Brahmanisme) yang merupakan kepercayaan bangsa Indo-Iran (Arya). 

Agama ini diperkirakan muncul antara tahun 3102 SM sampai 1300 SM dan merupakan agama tertua di dunia yang masih bertahan hingga kini. Agama ini merupakan agama ketiga terbesar di dunia setelah agama Kristen dan Islam dengan jumlah umat sebanyak hampir 1 miliar jiwa. Dalam bahasa Persia, kata Hindu berakar dari kata Sindhu (Bahasa Sanskerta).

Dalam Reg Weda, bangsa Arya menyebut wilayah mereka sebagai Sapta Sindhu (wilayah dengan tujuh sungai di barat daya anak benua India, yang salah satu sungai tersebut bernama sungai Indus). Hal ini mendekati dengan kata Hapta-Hendu yang termuat dalam Zend Avesta (Vendidad: Fargard 1.18) — sastra suci dari kaum Zoroaster di Iran. Pada awalnya kata Hindu merujuk pada masyarakat yang hidup di wilayah sungai Sindhu. Hindu sendiri sebenarnya baru terbentuk setelah Masehi ketika beberapa kitab dari Weda digenapi oleh para brahmana. Pada zaman munculnya agama Buddha, agama Hindu sama sekali belum muncul semuanya masih mengenal sebagai ajaran Weda. 

 Agama Hindu sebagaimana nama yang dikenal sekarang ini, pada awalnya tidak disebut demikian, bahkan dahulu ia tidak memerlukan nama, karena pada waktu itu ia merupakan agama satu-satunya yg ada di muka bumi. Sanatana Dharma adalah nama sebelum nama Hindu diberikan. Sanatana dharma yang memiliki makna "kebenaran yg kekal abadi" dan jauh belakangan setelah ada agama-agama lainnya barulah ia diberi nama untuk membedakan antara satu dengan yang lainnya. Sanatana dharma pada zaman dahulu kala dianut oleh masyarakat di sekitar lembah sungai shindu, penganut Weda ini disebut oleh orang-orang Persia sebagai orang indu (tanpa kedengaran bunyi s), selanjutnya lama-kelamaan nama indu ini menjadi Hindu. Sehingga sampai sekarang penganut sanatana dharma disebut Hindu. 

Agama hindu adalah suatu kepercayaan yang didasarkan pada kitab suci yang disebut Weda. Weda diyakini sebagai pengetahuan yang tanpa awal tanpa akhir dan juga dipercayai keluar dari nafas Tuhan bersamaan dengan terciptanya dunia ini. Karena sifat ajarannya yng kekal abadi tanpa awal tanpa akhir maka ia disebut sanatana dharma. Apabila membahas tentang Agama Hindu, kita harus mengetahui sejarah tempat munculnya agama tersebut. India adalah sebuah Negara yang penuh dengan rahasia dan cerita dongeng, masyarakatnya berbangsa-bangsa dan berkasta-kasta, malah ada masyarakat dalam masyarakat, serta sungguh banyak ditemui agama-agama. Bahasa dan warna kulit pun bermacam-macam. 

Pembicaraan mengenai India berarti adalah pembicaraan yang bercabang-cabang. Dipandang dari sudut ethnologi, India adalah tanah yang beraneka penduduknya, dan akibatnya orang dapat melihat kebudayaan yang beraneka pula. Semuanya ini tercermin dalam agamanya. Oleh karena itu barangsiapa mulai mempelajari agama Hindu ia akan segera merasa terlibat dalam sejumlah ajaran-ajaran, sehingga hampir tidak dapat menemukan jalan untuk mengadakan penyelidikan. Sepanjang orang dapat menyelidikinya, maka sejarah kebudayaan India mulai pada zaman perkembangan kebudayaan-kebudayaan yang besar di Mesopotamia dan Mesir. Antara 3000 dan 2000 tahun sebelum Masehi, rupa-rupanya di lembah sungai Sindhu (Indus) tinggallah bangsa-bangsa yang peradabannya menyerupai kebudayaan bangsa Sumeria di daerah sungai Efrat dan Tigris. Berbagai cap daripada gading dan tembikar yang ada tanda-tanda tulisan dan lukisan-lukisan binatang, menceritakan kepada kita bahwa di dalam zaman itu di sepanjang pantai dari Laut Tengah sampai ke Teluk Benggala terdapat sejenis peradaban yang sama dan yang sudah meningkat pada perkembangan yang tinggi. Sisa-sisa kebudayaan tersebut terutama terdapat di dekat kota Harappa di Punjab dan di sebelah utara Karachi. Bahkan disitu diketemukan sisa-sisa sebuah kota, Mohenjodaro namanya, di mana ternyata orang telah mempunyai rumah-rumah yang berdinding tebal dan bertangga. 

Penduduk India pada zaman itu terkenal sebagai bangsa Drawida. Mula-mula mereka tinggal tersebar di seluruh negeri, tetapi lama-kelamaan hanya tinggal di sebelah selatan dan memrintah negerinya sendiri, karena mereka di sebelah utara hidup sebagai orang taklukkan dan bekerja pada bangsa-bangsa yang merebut negeri itu. Mereka adalah bangsa yang berkulit hitam dan berhidung pipih, berperawakan kecil dan berambut keriting. Nama India diambil dari sungai Indus. Perkataan Ind dan Hindu keduanya berarti bumi yang terletak di belakang Sungai Indus, dan penduduknya dinamakan orang-orang India atau orang-orang Hindu. 

Mengenai penamaan Negara India, Gustav Le Bon berkata: “Orang-orang Barat berpendapat bahwa nama Sungai Indus telah dipinjamkan kepada negara yang mengandung berbagai rahasia yang terletak di sebelah belakangnya. Alasan ini tidak diterimanya bulat-bulat sebab nama India itu harus diambil dari nama Tuhan Indra.” Peradaban India telah berlangsung lama. Negara india telah menghasilkan beberapa Filosof agung sebelum Socrates dilahirkan. Di Negara India ini sudah tersebar tanda-tanda ilmu pengetahuan dan bangunan-bangunan yang megah pada suatu masa dahulu ketika Kepulauan Inggris masih dalam keadaan terbelakang. India adalah negara yang penuh dengan keajaiban dan pertentangan, hingga boleh dianggap sebagai sebuah Negara yang mengandung negara-negara. India adalah salah satu pusat peradaban kuno di dunia. 

Dalam hal ini, India menandingi Mesir, Cina, Assyria, dan Bailonia. Tetapi, peradaban India yang mendahului zaman Arya hanya baru dapat diketahui dan ditemukan dengan pengungkapan-pengungkapan baru dalam tingkatan kemajuan yang pernah dicapai oleh India dalam bidang arsitektur, pertanian, dan kemasyarakatan sejak masa 300 tahun SM, yaitu 1500 tahun sebelum kedatangan bangsa Arya. Antara 2000 dan 1000 tahun SM masuklah ke India dari sebelah utara kaum Arya, yang memisahkan diri dari kaum sebangsanya di Iran dan yang memasuki India melalui jurang-jurang di pegunungan Hindu-Kush. Bangsa Arya itu serumpun dengan bangsa Jerman, Yunani dan Romawi dan bangsa-bangsa lainnya di Eropa dan Asia. Mereka tergolong dalam apa yang kita sebut rumpun-bangsa Indo-German. Hinduisme dapat disamakan dengan rimba raja yang penuh dengan pohon-pohonan, tanam-tanaman, tumbuh-tumbuhan dan kembang-kembangan, pendeknya suatu serba ragam yang sulit sekali. Karena Hinduisme memperlihatkan berbagai bentuk dan bermacam-macam gejala-gejala agama. Suatu penyampuradukkan dari pada tokoh-tokoh dewa, bentuk-bentuk kultur, sel-sel agama dan mazhab-mazhab agama berdasarkan filsafat. 

Suatu perbedaan yang rumit antara pernyataan-pernyataan mistik yang sangat murni dan luhur atau pernyataan cinta yang mesra terhadap dewata pemurah yang tunggal dan bentuk-bentuk keagamaan dimana nafsu-nafsu manusia yang rendah dengan sejarah kasar menampakkan dirinya. Gambaran yang diberikan Hinduisme dalam keseluruhannya memang beraneka warna dan mengacaukan. Pesan pertama yang kita dapat ialah bahwa dalam Hinduisme boleh dikatakan terhimpun seluruh sejarah agama dengan segala ragam dan bentuk kesalahannya. Tetapi hal ini justru menambah kesulitan untuk mencoba apa yang mau dilakukan dalam karangan ini, yaitu menggambarkan Hinduisme secara ringkas. Kendati demikian kita harus mencoba membentuk pengertian tentang wujud Hinduisme. Biarpun kita tak dapat berbuat lebih dari pada hanya memberikan sesuatu gambaran dalam garis-garis besar dengan harapan semoga gambaran ini menyerupainya. Hinduisme ialah agama dari pada jutaan penduduk India. 

Tidaklah mudah untuk menentukan dengan kata-kata singkat, apa sebenarnya Hinduisme itu. Oleh karena itu, Hinduisme hamper sama sekali tak mempunyai bentuk dan terlalu merupakan suatu himpunan unsure-uunsur yang tak sama. Tetapi terutama sekali oleh karena terhadap Hinduisme tak dapat dipakai rumusan-rumusan yang biasa dipakai untuk merumuskan apakah agam itu. 

Pertama-tama Hinduisme tak ada pendirinya sehingga kita tak dapat menyimpulkan dari ajaran atau khutbahnya siapa sebetulnya Hinduisme itu. Penganut-penganutnya tak diharuskan mempunyai suatu keyakinan tertentu mengenai Tuhan, manusia dan dunia. Dalam Hinduisme tidak ada suatu pengakuan iman yang dapat dirumuskan dengan jelas yang disetujui oleh semua penganutnya. Juga tidak ada suatu atau bermacam-macam organisasi keagamaannya yang menghimpun semua penganutnya. Lebih tepat rasanya jika Hinduisme kita namakan suau system social yang diperkuat oleh cita-cita keagamaan dan dengan demikian lalu mempunyai tendensi keagamaan. Tak ada seorang pun yang dapat menjadi seorang Hindu dengan jalan menganut suatu agama tertentu. Seseorang adalah Hindu berkat kelahirannya. Keadaan ini meletakkan kewajiban untuk megikuti peraturan-peraturan upacara-upacara tertentu, pada umumnya peraturan-peraturan yang berhubungan dengan pembagian kasta dan khsusunya pemberian korban dan upacara –upacara keagamaan dan timbul dari pada pembagian kasta tadi. Ikatan-ikatan batin pada upacara yang turun temurun ini sangat kuat. Hal ini nyata sekali pada diri Gandi yang jelas bersimpati terhadap agama Kristen, tetapi tetap tinggal Hindu karena pertaniannya dengan bangsanya dan bubungan batinnya dengan kebudayaan agama sukunya. Bangsa Arya yang turun ke lembah Indus kira-kira 1500 tahun SM yang memberi corak pada kebudayaan India. Bangsa Arya ini satu suku dengan bangsa Iran yang bernabikan Zarathustra. 

Para peneliti berpendapat, dan ini lebih tepat, bahwa bangsa Arya ini berasal dari Asia, dahulunya mereka hidup di Asia Tengah di negeri Turkistan berdekatan dengan Sungai Jihun, kemudian berpindah pula dalam kelompok-kelompok yang besar menuju ke India melalui Parsi, dan mereka juga menuju Eropa. Nyatalah bahwa kedatangan bangsa Arya ke India terjadi pada abad ke-15 SM. Bangsa Arya ini telah memerangi kerajaan-kerajaan yang didirikan oleh bangsa berkulit kuning di India itu dan berhasil mengalahkan sebagaian besar dari mereka serta menjadikan kawasan-kawasan yang dikalahkannya itu sebagai wilayah yang tunduk di bawah pengaruh mereka. 

Bangsa Arya tidak bercampur dengan penduduk India dengan jalan perkawinan, malah mereka menjaga dengan sungguh-sungguh keturunan mereka yang berkulit putih itu, dan menggiring penduduk asli Negara India ke hutan-hutan dan ke gunung-gunung atau menjadikan mereka sebagai orang-orang tawanan yang dinamakan dalam sastra lama Bangsa Arya sebagai Bangsa Hamba Sahaya. Bangsa Arya ini telah meminta pertolongan dari Tuhan mereka “Indra” untuk mengalahkan penduduk India. Di antara bacaan do’a mereka adalah “wahai Indra Tuhan kami! Suku-suku kaum Dasa (budak) telah mengepung kami dari segenap penjuru dan mereka tidak memberikan korban apa-apa, mereka bukan manusia dan tidak berkepercayaan. Wahai Penghancur musuh! Binasakanlah mereka dari keturunannya.” Tentang sejauh mana pengaruh bangsa-bangsa berkulit kuning (Bangsa Turan) dan berkulit putih (Bangsa Arya) di India telah diterangkan oleh Gustav Le Bon: “Bangsa Turan adalah bangsa penyerang yang kuat sekali mengubah penduduk negeri India dari segi fisik dan bangsa Arya juga meninggalkan kesan yang mendalam terhadap bangsa India dari segi budaya. Dari bangsa Turan, penduduk India mengambil ciri ukuran tubuh dan raut muka, dan dari bangsa Arya mereka mengambil ciri bahasa, agama, undang-undang, dan adat-istiadat.” Pertemuan bangsa Arya dan bangsa Turan dengan penduduk asli telah menimbulkan kasta-kasta masyarakat di India dan merupakan suatu faktor yang sangat penting dalam sejarah negara ini. Dari bangsa Arya terbentuk golongan ahli-ahli agama (Brahmana) dan golongan prajurit (Ksatria). 

Dari bangsa Turan terbentuk pula golongan saudagar dan ahli-ahli tukang (Waisya). Pada mulanya orang-orang Hindu yang bergaul dengan bangsa Turan tidak termasuk dalam pembagian ini, tetapi dalam beberapa zaman kemudian peradaban Arya meresap ke dalam sebagian diri mereka, lalu bangsa Arya pun terbentuk dari kalangan orang-orang Hindu golongan keempat, yaitu golongan pesuruh dan hamba sahaya (Sudra). Penduduk-penduduk asli yang tidak tersentuh dengan peradaban Arya adalah disebabkan karena mereka memisahkan diri dari bangsa-bangsa pendatang itu. Maka, tinggallah mereka jauh dari pembagian ini dan terus menjadi orang-orang yang tersingkir atau terhalau dari masyarakat (out-casts). 

Untuk lebih jauh penjelasan tentang golongan-golongan ini akan dijelaskan pada makalah lain yang akan berbicara tentang golongan-golongan tersebut. Mungkin sekali bangsa-bangsa Arya itu ketika masuk ke India kurang beradab daripada bangsa Drawida yang ditaklukkannya. Tetapi mereka lebih unggul dalam ilmu peperangan daripada bangsa Drawida. Pada waktu bangsa Arya masuk ke India, mereka itu masih merupakan bangsa setengah nomad (pengembara)., yang baginya peternakan lebih besar artinya daripada pertanian. Bagi bangsa Arya, kuda dan lembu adalah binatang-binatang yang sangat dihargai, sehingga binatang-binatang itu dianggap suci. Dibandingkan dengan bangsa Drawida yang tinggal di kota-kota dan mengusahakan pertanian serta menyelenggarakan perniagaan di sepanjang pantai, maka bangsa Arya itu bolehlah dikatakan primitive. Dahulu orang tidak tahu dengan tepat dan selalu memandang kebudayaan yang dibawa oleh bangsa Arya. Tetapi terutama sesudah penggalian-penggalian tersebut di atas, berubahlah pandangan orang dan makin banyak diketahui, bahwa bermacam-macam unsure di dalam kebudayaan India berasal dari kebudayaan Drawida yang tua itu. Umpamanya saja bangsa Arya belum mempunyai patung-patung dewa, bangsa Drawida sudah. Sebuah gejala yang tipik atau khas di dalam agama Hindu ialah pengakuan adanya dewa-dewi induk. Itupun suatu gejala pra-Arya. Demikian pula banyak gejala-gejala Agama Hindu yang rupa-rupanya tidak berasal dari agama bangsa Arya, melainkan berasal dari aama bangsa Drawida. Jadi dapatlah dikonstatir dengan jelas bahwa Agama Hindu sebagai agama tumbuh dari dua sumber yang berlainan, tumbuh dari perasaan dan fikiran keagamaan dua bangsa yang berlainan, yang mula-mula dalam banyak hal sangat berlainan, tetapi kemudian lebur menjadi satu. Di dalam tulisan-tulisan Hinduistis yang tertua, unsur-unsur Arya lah yang sangat besar pengaruhnya. Hal itu tidak mengherankan karena tulisan-tulisan itu berasal dari zaman bangsa Arya memasuki India dengan kemenangan-kemenangan, jadi pengaruh Drawida tentunya belum begitu besar. Agama bangsa Arya kita kenal dari kitab-kitabnya yang mengenai agamanya, yakni kitab-kitab Weda (Weda artinya tahu). Oleh karena itu masa yang tertua dari agama Hindu disebut masa Weda. Maulana Mohamed Abdul Salam al-Ramburi juga berkata: “Umat India mudah menerima apa saja pemikiran dan kepercayaan yang ditemuinya. Di kalangan mereka banyak terdapat pendapat dan kejahilan. Orang-orang berada dalam kebingungan dan bersedia menerima dan mengukuhkan semua ini…. Kepercayaan mereka bermacam-macam, pemikiran mereka bercabang-cabang, gejala ketuhanan merebak, begitu juga ilmu-ilmu kebatinan. Sarana-sarana untuk berfikir dan menyepi telah disediakan di seluruh penjuru negeri India oleh para Pendeta dan Cendekiawan. Lahirlah beberapa pengkajian moral yang diikuti oleh segenap golongan masyarakat. Tersebar jugalah latihan-latihan badan yang berat dan sulit untuk mendapatkan suatu kekuatan yang dapat menguasai kekuatan alam. Pertapaan di gua-gua sebagai suatu pengawasan atas diri adalah menjadi tumpuan, begitu juga pengasingan diri ke hutan-hutan rimba untuk melemaskan tubuh supaya dapat naik mencapai kekuatan rohani.” Oleh karena itu, Negara India terkenal mempunyai banyak agama dan kepercayaan yang menyamai atau hamper-hampir sama banyaknya dengan jumlah bahasa India. Agama Hindu adalah yang termasyhur di antara agama-agama ini dan luas sekali penyebarannya, malah dialah agama umum yang meliputi kebanyakan atau semua orang India. Kadang-kadangn sekiranya mereka atau sebgian dari mereka bangkit menentangnya, penentang-penentang itu lambat laun akan kembali ke pangkuannya. Buku Hinduism telah menerangkan sebab-sebab terjadinya hal demikian dengan menuliskan: “Amat sulit untuk dikatakan bahwa Hinduisme itu adalah suatu agama dalam pengertiannya yang sangat luas. Hinduisme lebih meliputi dan lebih dalam daripada agama. Ini merupakan suatu sifat bagu bentuk masyarakat India dengan aturan berkasta-kasta dan kedudukan tiap-tiap kasta itu di dalam masyarakat. Ini merupakan kehidupan India dengan caranya tersendiri yang dianggap sebagai satu dari semua masalah suci dan masalah hina karena di dalam pemikiran Hindu tidak ada batas yang memisahkan keduanya. Ini merupakan aliran-aliran rohani, moral dan perundangan. Di samping itu, ia juga merupakan prinsip-prinsip, ikatan-ikatan, dan kebiasaan-kebiasaan yang menguasai dan mengendalikan kehidupan Hindu.” Agama Hindu adalah suatu agama yang berevolusi dan merupakan kumpulan adat-istiadat dan kedudukan yang timbul dari hasil penyusunan bangsa Arya terhadap kehidupan mereka yang terjadi pada satu generasi ke generasi yang lain sesudah mereka datang berpindah ke India dan menundukkan penduduk asli itu. Kedudukan bangsa Arya sebagai penakluk negeri yang lebih tinggi daripada kedudukan penduduk asli serta pergaulan mereka telah melahirkan adat-istiadat Hindu itu yang dianggap menurut perputaran sejarah, sebagai suatu agama yang dianut dan dipegang tata susilanya oleh orang-orang India. Kiranya dapat dikatakan bahwa asas Agama Hindu adalah kepercayaan bangsa Arya yang telah mengalami perubahan sebagai hasil dari percampuran mereka dengan bangsa-bangsa lain, terutama sekali adalah bangsa Parsi, yaitu sewaktu dalam masa perjalanan mereka menuju India. Kemudian, kepercayaan-kepercayaan ini menerima kesan pula di negeri India setelah berbenturan dengan pemikiran-pemikiran penduduk asli dan dengan falsafah-falsafah dan pemikiran-pemikiran yang telah ada di India dalam beberapa tingkatan sejarah yang berjauhan hingga Agama Hindu itu menyimpang jauh dari kepercayaan asli bangsa Arya. Agama Hindu lebih merupakan suatu cara hidup daripada merupakan kumpulan kepercayaan. Sejarahnya menerangkan mengenai isi kandungannya yang meliputi berbagai kepercayaan, hal-hal yang harus dilakukan, dan yang boleh dilakukan. Agama ini tidak mempunyai kepercayaan yang membawanya turun hingga kepada penyembahan batu dan pohon-pohon, dan membawanya naik pula kepada masalah-masalah falsafah yang abstrak dan halus. Seandainya Agama Hindu tidak mempunyai pendiri yang pasti maka begitu pula halnya dengan Weda. Kitab suci ini yang mengandung kepercayaan-kepercayaan, adat-istiadat, dan hukum-hukum juga tidak mempunyai pencipta yang pasti. Para penganut agama Hindu mempercayai bahwa kitab ini adalah suatu kitab yang ada sejak dahulu yang tidak mempunyai tanggal permulaan. Kitab ini diwangsitkan sejak awal kehidupan, setara dengan awal yang mewangsitkannnya. Mari kita baca sekilas tentang bangsa Dravida dan bangsa Arya. 

Bangsa Dravida di India 

Penduduk India yang asli pada waktu bangsa Arya menyerbu ke India terutama masuk bangsa Dravida. Bangsa ini ialah penduduk asli yang diketemukan menduduki kota Harappa di Punjab dan di sebelah utara kota Karachi pada tahun 3000-2000 SM. Mula-mula mereka tinggal tersebar di seluruh negeri, tapi lama kelamaan hanya tinggal di sebelah selatan dan memerintah negerinya sendiri, karena mereka sebelah utara hidup sebagai orang taklukkan dan bekerja pada bangsa yang merebut negeri itu. Mereka adalah bangsa yang berkulit hitam dan berhidung pipih, berperawakan kecil dengan rambut keriting. Bangsa Dravida mempunyai peradaban tinggi waktu itu, ternyata di daerah Punjab dan lereng sungai gangga terdapat daerah yang subur yang sudah dikerjakan oleh bangsa Dravida. Dan di kota-kota yang terkenal disebut Mohenjodaro dan Harappa pun sudah dibuat rumah-rumah batu yang dikerjakan oleh mereka. Mereka bercocok tanam dan pandai berlayar menyusur pantai. 

Bangsa Arya

Bangsa Arya ialah suatu bangsa yang masuk ke India kira-kira pada tahun 2000-1000 SM, dari sebelah utara. Mereka ialah kaum yang memisahkan diri dari bangsanya di Iran dan memasuki India melalui jurang-jurang di Pegunungan Hindu Kush. Bangsa Arya itu serumpun dengan bangsa Jerman, Yunani, Romawi, dan bangsa-bangsa lainnya di Eropa dan di Asia. Mereka tergolong apa yang disebut rumpun bangsa Indo-German. Setelah datang di India mereka menetap di daratan sungai Sinhu yang pada zaman itu masih subur jadi di daerah itu mereka telah menjumpai suatu peradaban tua. Di dalam beberapa hal mereka berbeda dengan bangsa Dravida. Mereka berkulit putih dan berbadan tegak, bentuk hidungnya melengkung sedikit. Kemudian mereka telah jauh memasuki India sampai di tepi Sungai Gangga dan sampai di sebelah selatan. Dan disitu mereka makin bercampur dengan bangsa Dravida dan dengan demikian terwujudlah kemudian suatu kesatuan. Berkat peleburan kebudayaan Dravida yang tua itu dengan kebudayaan Arya maka terjadilah kemudian kebudayaan India. 

III. Agama Lembah Sungai Indus 
Peradaban Lembah Sungai Indus 
Penduduk asli Lembah sungai Indus adalah bangsa Dravida yang berkulit hitam. Di sekitar sungai itu terdapat dua pusat kebudayaan yaitu Mohenjo Daro dan Harappa. Mereka sudah menetap di sana dengan mata pencaharian bercocok tanam dengan memanfaatkan aliran sungai dan kesuburan tanah di sekitarnya. Menurut teori kehidupan bangsa Dravida mulai berubah sejak tahun 2000-an SM karena adanya pendatang baru, bangsa Arya. Mereka termasuk rumpun berbahasa Indo-Eropa dan berkulit putih. Bangsa Arya ini mendesak bangsa Dravida ke bagian selatan India dan membentuk Kebudayaan Dravida namun, sebagian lagi ada yang bercampur antara bangsa Arya dan Dravida yang kemudian disebut bangsa Hindu. Oleh karena itu, kebudayaannya disebut kebudayaan Hindu. 

Peradaban Lembah Sungai Indus 
1) Letak Geografis Sungai Indus 
a. Di sebelah Utara berbatasan dengan China yang dibatasi Gunung Himalaya 
b. Selatan berbatasan dengan Srilanka yang dibatasi oleh Samudera Indonesia 
c. Barat berbatasan dengan Pakistan 
d. Timur berbatasan dengan Myanmar dan Bangladesh 

2) Peradaban sungai Indus (2500 SM) 
a. Kebudayaan kuno India ditemukan di kota tertua India yaitu daerah Mohenjodaro dan Harappa. 
b. Penduduk Mohenjodaro & Harappa adalah bangsa Dravida 
c. Saluran air bagus 
d. Terdapat hubungan dagang antara Mohenjodaro dan Harappa dengan Sumeria. 
e. Perencanaan yang sudah maju 
f. Rumah-rumah terbuat dari batu-bata 
g. Mohenjodaro dan Harappa merupakan kota tua yang dibangun berdasarkan : 
h. Jalan raya lurus dan lebar 

1. Pusat Peradaban 
Peradaban Lembah Sungai Indus diketahui melalui penemuan-penemuan arkeologi-diKota Harappa dan Mohenjodaro. Kota Mohenjodaro diperkirakan sebagai ibukota daerahLembah Sungai Indus bagian selatan dan Kota Harappa sebagai ibukota Lembah Sungai Indusbagian utara. Mohenjodaro dan Harappa merupakan pusat peradaban bangsa India pada masalampau. 

2. Tata Kota 
Di Kota Mohenjodaro dan terdapat gedung-gedung dan rumah tinggal serta pertokoandibangun secara teratur dan berdiri kukuh. Gedung-gedung dan rumah tinggal dan pertokoan itusudah terbuat dari batu bata lumpur. Wilayah kota dibagi atas beberapa bagian atau blok yang dilengkapi jalan yang adaaliran airnya. 

3. Sistem Pertanian dan Pengairan 
Daerah Lembah Sungai Indus merupakan daerah yang subur. Pertanian menjadi matapencaharian utama masyarakat India. Pada perkembangan selanjutnya, masyarakat telahberhasil menyalurkan air yang mengalir dari Lembah Sungai Indus sampai jauh ke daerahpedalaman. Pembuatan saluran irigasi dan pembangunan daerah-daerah pertanian menunjukkanbahwa masyarakat Lembah Sungai Indus telah memiliki peradaban yang tinggi. Hasil-hasilpertanian yang utama adalah padi, gandum, gula/tebu, kapas, teh, dan lain-lain. 

4. Sanitasi (Kesehatan) 
Masyarakat Mohenjodaro dan Harappa telah memperhatikan sanitasi (kesehatan)lingkungannya. Teknik-teknik atau cara-cara pembangunan rumah yang telah memperhatikanfaktor-faktor kesehatan dan kebersihan lingkungan yaitu rumah mereka sudah dilengkapi olehjendela. 

5. Teknologi 
Masyarakat Lembah Sungai Indus sudah memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi,Kemampuan mereka dapat diketahui melalui peninggalan-peninggalan budaya yang ditemukan,seperti bangunan Kota Mohenjodaro dan Harappa, berbagai macam patung, perhiasan emas,perak, dan berbagai macam meterai dengan lukisannya yang bermutu tinggi dan alat-alatpeperangan seperti tombak, pedang, dan anak panah 

6.Pemerintahan 
Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Maurya antara lain sebagai berikut : 
a. Candragupta Maurya 
Setelah berhasil menguasai Persia, pasukan Iskandar Zulkarnaen melanjutkan ekspansidan menduduki India pada tahun 327 SM melalui Celah Kaibar di Pegunungan Himalaya.Pendudukan yang dilakukan oleh pasukan Iskandar Zulkarnaen hanya sampai di daerah Punjab.Pada tahun 324 SM muncul gerakan di bawah Candragupta. Setelah Iskandar Zulkarnaenmeninggal tahun 322 SM, pasukannya berhasil diusir dari daerah Punjab dan selanjutnyaberdirilah Kerajaan Maurya dengan ibu kota di Pattaliputra. Candragupta Maurya Menjadi raja pertama Kerajaan Maurya. Pada masapemerintahannya, daerah kekuasaan Kerajaan Maurya diperluas ke arah timur, sehinggasebagian besar daerah India bagian utara menjadi bagian dari kekuasaannya. Dalam waktusingkat, wilayah Kerajaan Maurya sudah mencapai daerah yang sangat iuas, yaitu daerahKashmir di sebelah barat dan Lembah Sungai Gangga di sebelah timur. 

b. Ashoka 
Ashoka memerintah.Kerajaan Maurya dari tahun 268-282 SM. Ashoka merupakan cucudari Candragupta Maurya. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Maurya mengalami masayang gemilang. Kalingga dan Dekkan berhasil dikuasainya. Namun, setelah ia menyaksikankorban bencana perang yang maha dahsyat di Kalingga, timbul penyesalan dan tidak lagimelakukan peperangan. Mula-mula Ashoka beragama Hindu, tetapi kemudian menjadi pengikut agama Buddha.Sejak saat itu Ashoka menjadikan agama Buddha sebagai agama resmi negara. Setelah Ashokameninggal, kerajaan terpecah-belah menjadi kerajaan kecil. Peperangan sering terjadi dan barupada abad ke-4 M muncul seorang raja yang berhasil mempersatukan kerajaan yang terpecahbelah itu. Maka berdirilah Kerajaan Gupta dengan Candragupta I sebagai rajanya. 

7. Kepercayaan 
Sistem kepercayaan masyarakat Lembah Sungai Indus bersifat politeisme atau memujabanyak dewa. Dewa-dewa tersebut misalnya dewa kesuburan dan kemakmuran (Dewi Ibu).  Masyarakat lembah Sungai Indus juga menyembah binatang-binatang seperti buaya dangajah serta menyembah pohon seperti pohon pipal (beringin). Pemujaan tersebut dimaksudkansebagai tanda terima kasih terhadap kehidupan yang dinikmatinya, berupa kesejahteraan dan perdamaian. 

Peradaban lembah sungai Indus diketahui melalui penemuan-penemuan arkeologi di kota Harappa dan Mohenjodaro. Kota Mohenjodaro diperkirakan sebagai ibu kota daerah lembah sungai Indus bagian selatan. Dan kota Harappa sebagai Ibu kota lembah sungai Indus bagian utara. Mohenjodaro dan Harappa merupakan pusat peradaban bangsa India pada masa lampau. 

System kepercayaan masyarakat lembah sungai Indus bersifat politeisme atau memuja banyak dewa. Dewa-dewa tersebut misalnya dewa kesuburan dan kemakmuran. Masyarakat lembah sungai Indus juga menyembah binatang seperti buaya, gajah, serta menyembah pohon seperti pohon beringin, dan lain-lain. Pemujaan tersebut dimaksudkan sebagai tanda terima kasih terhadap kehidupan yang dinikmatinya, berupa kesejahteraan dan perdamaian. Bangsa Arya dan bangsa Dravida merupakan bangsa yang memiliki ideology keagamaan yang berbeda satu sama lain, akan tetapi dari kedua ideology agama tersebut, melahirkan suatu agama persatuan dari keduanya, yakni agama Hindu. Interaksi bangsa Dravida dan bangsa Arya menghasilkan Agama Hindu. 

IV. Kesimpulan 
Secara historis, agama Hindu merupakan agama yang berasal dari Negara India. Agama Hindu juga merupakan salah satu agama yang tertua di dunia. Agama Hindu dilihat dari sejaraah mulanya, agama ini merupakan hasil persatuan antara keprcayaan atau agama-agama yang berada di India. Bangsa Dravida merupakan bangsa yang berasal dari dalam India, akan tetapi setelah datangnya bangsa Arya yang telah merebut kekuasaan bangsa Dravida pada waktu itu. Bangsa Dravida pun menghindari dari kecaman bangsa Arya, sehingga bangsa Dravida pergi menuju pedalaman bahkan bertempat di dataran tinggi India. Interaksi antara keduanya juga salah satu dari asal-mulanya agama Hindu. Persatuan yang mendesak bangsa Dravida membuat mereka bercampur dengan bangsa Arya dan melahirkan kepercayaan yang hingga sekarang ada di dunia, yakni agama Hindu. 

V. DAFTAR PUSTAKA 
Thalhas, T. H. Pengantar Studi Ilmu Perbandingan Agama. Jakarta: Galura Pase, 2006. 
Honig Jr, A. G. Ilmu Agama. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 1997. 
Shalaby, Ahmad. Perbandingan Agama; Agama-Agama Besar di India; Hindu-Jaina-Budha. Jakarta: PT Bumi Aksara, 2001. 
Bleeker, C. J. Pertemuan Agama-Agama Dunia. Jakarta: Sumur Bandung, 1963. 
Rifa’I, Moh. Perbandingan Agama. Semarang: Wicaksana, 1980.

Relasi Gender dalam Yahudi

Oleh:
Faisal Wibowo

BAB I 
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG 
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat telah membawa dunia pada era yang disebut dengan globalisasi. Era ini ditandai dengan munculnya perubahan-perubahan fundamental dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Lahirnya knowledge society yang ditandai dengan dominasi otoritas ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia dan munculnya “global village” yang semakin memperkecil makna perbedaan jarak, ruang dan waktu, memberikan dampak yang signifikan terhadap kehidupan manusia, baik positif maupun negatif. Di sisi lain, hegemoni ilmu pengetahuan modern memunculkan kritik feminis yang mengoreksi dan menolak kebenaran universal epistemologi positivistik yang sesungguhnya merupakan konstruksi sosial yang bersifat partikular, sarat dengan bias kultur dan gender. 

Pada bab sebelumnya kita telah bersama-sama membahas mengenai apa yang dimaksud dengan gender. Menurut Azyumardi Azra, gender merupakan perbedaan peran antara perempuan dan laki-laki yang dibentuk oleh budaya. Perbedaan peran ini sudah demikian melekat dalam masyarakat, sehingga diasumsikan sebagai peran kodrati. Hal tersebut tidak akan menimbulkan masalah selama tidak memunculkan ketimpangan relasi gender dan peran gender. Atau dalam pengertian lain bahwa gender adalah perbedaan tingkah laku antara laki-laki dan perempuan yang secara sosial dibentuk perbedaan yang bukan kodrat ini diciptakan melalui proses sosial dan budaya yang panjang. 

Isu gender menjadi agenda penting dari semua pihak karena realitas perbedaan gender yang berimplikasi pada perbedaan status, peran dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan yang menimbulkan ketidakadilan gender atau diskriminasi maupun penindasan. Ketidakadilan ini dapat terjadi di berbagai bidang kehidupan, baik dalam wilayah domestik maupun publik, dalam bidang pendidikan, kesehatan, keamanan, ekonomi, politik, maupun pembangunan secara lebih luas. Problem ketidakadilan gender ini dalam banyak kasus menjadi isu yang cukup sensitif dan tidak mudah dipecahkan, terutama ketika terkait dengan doktrin agama, bahkan seolah-olah mendapatkan legitimasi teologis. Makalah ini akan membahas mengenai bagaimana relasi gender dalam agama Yahudi. 

BAB II 
DESKRIPSI DAN ANALISIS 

A. Gender Perspektif Yahudi 
Dalam tradisi Yahudi, perempuan di satu sisi digambarkan sebagai mahluk yang kuat, baik dan sopan, seperti: Batsheba sebagai perempuan yang pandai, Deborah seorang nabi perempuan, Ruth seorang yang terpandang dan Esther seorang juru selamat rakyatnya. Namun, dalam tradisi Yahudi juga ditemukan ajaran bahwa perempuan merupakan asal mula dosa dan juga melalui perempuan manusia akan mati. Laki-laki harus bekerja dan perempuan harus melahirkan dalam kesakitan. Perempuan yang sedang menstruasi dan 7 hari selebihnya dianggap kotor dan tidak suci, bahkan harus disembunyikan di goa-goa gelap atau diasingkan dan sebagainya. Perempuan yang melahirkan, 33 hari dianggap kotor apabila anaknya laki-laki. Kalau anaknya perempuan, maka masa tidak sucinya /kotornya menjadi berlipat. Jika telah selesai masa tidak sucinya, ia harus mencari pendeta untuk membuat penebusan dosa untuknya. Bahkan dalam Talmud, ada teks doa: “saya berterimakasih pada-Mu Tuhan, karena tidak menjadikanku perempuan.” 

Dalam agama Yahudi, laki-laki mempunyai posisi yang lebih dominan dibandingkan dengan perempuan. Dominasi ini menciptakan ketidakadilan gender. Ketika suatu perbuatan itu dilakukan oleh laki-laki, maka dianggap sebagai suatu kebenaran. Gender dalam pandangan Kitab Suci Perjanjian Lama misalnya dalam kaca mata Yahudi sarat dengan pandangan tentang Allah sebagai Bapa yang mahakuasa, suka marah, menghukum. Pandangan Allah sebagai Bapa dalam masyarakat Yahudi ini menunjuk pada dominasi laki-laki, sehingga dasar membuat pranata kehidupan juga atas dasar pandangan laki-laki. Dominasi ini menciptakan ketidakadilan dalam masyarakat yang menggeser perempuan tanpa disadari oleh kaum perempuan itu sendiri. Pranata kehidupan yang dibuat atas dasar peran laki-laki dianggap sebagai suatu kebenaran. Perbedaan biologis di antara manusia menjadi objek dasar pembuatan pranata kehidupan (pandangan seksis). 

Kitab Kejadian, Keluaran, I Raja-raja, II Raja-raja, Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, Hosea, dalam Perjanjian Lama sangat sarat dengan peringatan akan penguasa sewenang-wenang yang membuat pranata kehidupan tidak manusiawi ini. Dalam pandangan Yahudi, martabat perempuan sama dengan pembantu. Mereka menganggap perempuan adalah sumber laknat karena dialah yang menyebabkan adam diusir dari surga . Seperti halnya dalam hukum waris agama Yahudi bahwa anak laki-laki lah yang merupakan pewaris utama dari orang tuanya. Kalau anak laki-laki ini banyak maka yang tertua lah yang lebih utama, dan memperoleh warisan dua kali lipat dari bagian saudara-saudara yang lain. Sedangkan anak perempuan yang belum berumur dua belas tahun tidak berhak menerima warisan. 

Dalam hukum perkawinan agama Yahudi poligami diharuskan dan jumlahnya tidak dibatasi, karena tidak terdapat larangan dan batasan untuk itu. Kedudukan seorang istri atau anak perempuan berdasarkan hukum Yahudi adalah lemah sekali. Seorang wanita yang sudah dikawinkan, menjadi seolah-olah dibeli oleh suaminya dari bapaknya, dan suaminya menjadi tuannya. Ia tak ubahnya sebagai anak kecil atau burung patah sayap. Ia tak berhak membeli ataupun menjual. Semua harta bendanya menjadi milik suaminya. Istri tidak berhak memiliki apa-apa selain maskawin yang diterimakan kepadanya. Disamping itu, kaum wanita sebagai istri wajib melakukan semua pekerjaan rumah tangga, baik yang berat maupun ringan. Kewajiban ini harus dilaksanakan dengan taat. 

Sementara dalam buku Fundamentalism and Woman in World Religions, yang diedit oleh Arvind Sharma dan Katherine K. Young, dijelaskan: As we shall see, women’s roles are a profound symbol of the extent to which Jewish societies accept—or reject—modernity and Westernization. (Seperti kita akan lihat, peran perempuan adalah simbol yang mendalam sejauh mana masyarakat Yahudi menerima atau menolak--modernitas dan westernisasi). Artinya, dalam masyarakat Yahudi kontemporer justru perempuan mendapatkan penilaian khusus dengan menjadi sebuah simbol diterima atau ditolaknya modernitas dan westernisasi. 

Dalam kehidupan Yahudi Kontemporer, keberadaan gender menjadi salah satu kunci penting untuk memahami peran fundamentalisme, yang berdampak pada konstruksi identitas perempuan yahudi, budaya yahudi, dan kehidupan perempuan yahudi. Contemporary social scientists assume that while certain aspect of sexuality are biologically determined, gender roles are constructed by societies.( Ilmuwan sosial kontemporer mengasumsikan bahwa sementara aspek-aspek tertentu dari seksualitas secara biologis ditentukan, peran gender yang dibangun oleh masyarakat). Dalam upaya membangun tatanan baru dunia, pejuang Feminis Yahudi dan Kristen, berusaha melakukan koreksi terhadap dominasi laki-laki atas teologi dan marginalisasi serta eksklusi perempuan dari wilayah agama. Mereka mengembangkan teologi feminis, sebagaimana yang muncul di Inggris sejak abad ke-17. Teologi feminis berupaya membaca ulang teks suci dari perspektif perempuan dan mencari dasar teologis bagi pengakuan harkat dan martabat perempuan. 

B. Pandangan Tokoh-tokoh Yahudi tentang Gender 
Berbicara mengenai gender berarti membicarakan peran dan hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Hubungan laki-laki dan perempuan pada dasarnya adalah hubungan antara umat manusia. Apapun yang baik dalam hubungan antara satu manusia dengan manusia yang lain, adalah baik dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan dengan menghindari ketidakadilan gender (gender inequalities).

Baik bagi kaum laki-laki maupun perempuan. Perbedaan gender tidak menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan, tetapi ia menjadi persoalan karena perbedaan gender ini seringkali menimbulkan ketidakadilan. Adapun bentuk-bentuk ketidakadilan gender dimaksud adalah stereotipe, marjinalisasi, diskriminasi, tindak kekerasan dan beban kerja. Oleh karena itu diperlukan upaya menciptakan relasi laki-laki dan perempuan yang adil dan harmonis. Menurut Erich Fromm seorang Yahudi, seorang Psikoanalisis Sosial berkebangsaan Jerman yang juga merupakan anggota Partai Sosialis Amerika era 1950-an, ia menyatakan bahwa hubungan antara kaum laki-laki dan kaum perempuan adalah hubungan antara sebuah kelompok yang menang dan yang kalah. 

Di Amerika Serikat tahun 1949 hal ini dianggap lucu ketika mengatakan demikian, apalagi di zaman sekarang ini. Karena sudah jelas bisa kita lihat, kaum perempuan di kota-kota besar tentu saja tidak tampak, tidak merasa, dan tidak bertindak seperti layaknya kelompok yang kalah. Dia menambahkan kaum perempuan telah menyelesaikan emansipasinya, dan oleh sebab itu berada sejajar dengan kaum laki-laki, dan membuatnya bisa tampil. 

DAFTAR PUSTAKA 

Fromm, Erich. Cinta, Seksualitas, dan Matriarki. Jalasutra, Yoyakarta & Jakarta 2007. 
Sharma, Arvind & Young, K, Katherine. Fundamentalism and Women in World Religion. New York, T & T Clark International. 2008 
Sumbulah, Umi. Artikel: Agama dan Keadilan Gender. Pusat Studi Islam UII, Makalah Diskusi Gender Agama Katolik. 
Zubaedah, Siti. Mengurai Problematika Gender dan Agama. Jurnal Studi Gender dan Anak Vol.5 No.2 Jul-Des 2010 pp.243-260, Pusat Studi Gender STAIN Purwokerto.

Sistem Ritual

Oleh: 
Faisal Wibowo

I. PENDAHULUAN 

Ilmu pengetahuan yang berusaha mempelajari tentang manusia yang menyangkut agama dengan pendekatan budaya adalah ‘Antropologi Agama’ atau ‘Antropologi Religi’. Kedua istilah tersebut mengandung arti adanya hubungan antara manusia dengan kekuasaan yang ghaib dan menyangkut adanya buah pikiran sikap dan perilaku manusia dalam hubungannya dengan kekuasaan yang tidak nyata. Buah pikiran, sikap dan perilaku manusia tentang keagamaan dan kepercayaan itu pada kenyataannya dapat dilihat dalam wujud tingkah laku dalam acara dan upacara-upacara tertentu menurut tata cara yang ditentukan dalam agama dan kepercayaan masing-masing. Dengan demikian Antropologi Agama tidaklah mendekati agama itu sebagaimana dalam ‘Teologi’ (Ilmu Ketuhanan), yaitu ilmu yang menyelidiki wahyu Tuhan. Salah satu kajian dalam Antropologi Agama adalah mengkaji “Sistem Ritual,” maka marilah kita masuk ke dalam pembahasan mengenai hal itu supaya pemahaman tentang Antropologi Agama bisa lebih berkembang. 

II. PEMBAHASAN 

A. SISTEM RITUAL 
Ketika kita berusaha menemukan sebuah definisi yang cukup luas dan tentu saja juga komprehensif untuk mencakup ragam aktivitas manusia yang bisa kita gambarkan di bawah kata “ritual” tidaklah dapat dilakukan semuanya itu secara mulus. Bobby Alexander menekankan dua aspek dalam ritual, yaitu “performance” dan transformation.” “Ritual defined in the most general and basic terms is performance, planned or improvised, that effects a transition from everyday is transformed.” (Alexander, 1997: 139) Di dalam definisinya tersebut, Alexander menekankan bahwa semua ritual, termasuk ritual keagamaan, didasarkan kepada dunia keseharian manusia. Salah satu definisi yang paling baik mengenai ritual keagamaan diberikan oleh Victor Turner, yang mendeskripsikannya sebagai: “Prescribed formal behavior for occasions not given over to technical routine, having reference to beliefs in mystical (or non-empirical) beings or powers, regarded as the first and final causes of all effects.” (Turner, 1982, p. 79) 

B. PANDANGAN ANTROPOLOG TERHADAP RITUAL 
Kita bisa melihat secara lebih jernih apa yang terjadi di dalam sebuah ritual jika kita mampu memahami lima faktor utama ritual, yaitu: 

1. Dimensi Material Suatu Ritual Kita akan mengobservasi dan mendokumentasikan dimensi material suatu ritual. Objek-objek fisik apa saja yang digunakan (seperti buku/kitab, alat music, makanan, lilin, dan bel)? Dalam ruang fisik seperti apa suatu ritual terjadi (seperti di dalam atau di luar ruangan)? Di sebuah ruangan yang besar ataukah sebaliknya sangat kecil? Bagaimana para pesertanya berbusana? Bagaimana atmosfer fisik tempat tersebut (terang atau gelap)? Dipenuhi asap atau tidak? Bau-bauan seperti apa atau sensasi lain apa yang terasa? Kesimpulannya, apa yang membuat tempat tersebut menjadi “sakral”? 

2. Dimensi Aktif Suatu Ritual Mengeni apa yang dilakukan oleh para peserta ritual itu. Misalnya menyanyi, menari, ataukah hanya duduk? Bagaimana rentetan, urutan aksi ritual itu dilaksanakan? Bagaimana mood atau sikap para partisipan saat mereka berada dalam pelaksanaan ritual tertentu? Perlu ditegaskan bahwa tindakan ritual tidak terjadi dalam Susana vakum. Setiap ritual harus dimulai oleh semacam tindakan pemula yang menyiapkan para partisipan untuk masuk secara penuh ke dalam ruang dan waktu yang sacral, dan itu biasanya akan diikuti oleh beberapa aksi yang memperkenankan para partisipan untuk kembali masuk ke dunia profan dengan cara gradual. 

3. Dimensi Kemanusiaan Dimensi ini mencakup siapa saja yang berpartisipasi (bukan orang per orang secara spesifik, namun kategori yang mereka miliki, misalnya para tetua, anak muda, perempuan, laki-laki atau komunitas dari kelas sosial tertentu)? Kemudian apakah ada perbedaan yang tampak menonjol antara mereka yang tampak memimpin acara ritual dengan mereka yang membentuk “majlis”?. 

4. Dimensi Supranatural Suatu Ritual Dimensi ini untuk mengukur wujud/kekuatan atau ide apa yang bertengger di pusat ritual (yaitu bagaimana karakteristik “dunia supranaturalnya” yang dengannya para partisipan ingin tenggelam)? 

5. Dimensi Mitologis Suatu Ritual Tujuan daripada dimensi ini adalah untuk melihat dan membuka tabir kisah semacam apakah yang disampaikan untuk menjelaskan mengapa setiap orang berkumpul pada waktu ini, di tempat ini, untuk tujuan-tujuan ini? Disamping itu, dilihat juga siapa yang menyampaikan kisah-kisah tersebut? Apakah kisah tersebut secara eksplisit dibacakan, atau apakah ini secara implisit mengasumsikan bahwa setiap orang sudah mengetahuinya? 

C. TIPE-TIPE RITUAL 
Ada lima kategori umum ritual , yaitu: 
1. Technological Rituals 
Tipe ritual yang pertama adalah yang bersifat teknologis. Fokusnya adalah kepada pencapaian suatu kendali atas kekuatan-kekuatan alam. 

2. Therapeutic Rituals 
Kedua adalah tipe ritual yang bersifat terapetik. Ini umumnya dirancang untuk mencegah atau mengatasi ketidakberuntungan atau suatu penyakit. 

3. Ideological Rituals 
Ini merupakan tipe ketiga ritual yang bersifat ideologis. Ritual-ritual tersebut umumnya dirancang untuk memperkuat nilai-nilai yang ada di dalam sebuah kelompok. 

4. Salvationary Rituals 
Selanjutnya, tipe keempat ritual adalah ritual keselamatan (salvationary). Ritual semacam ini dirancang untuk menolong bergelutnya seseorang dengan urusan individual. 

5. Revitalization Ritual 
Tipe ritual yang kelima adalah jenis ritual yang diasosiasikan dengan gerakan-gerakan revitalisasi (revitalization movements), yang dilakukan demi ISI masyarakat secara keseluruhan apa yang ritual-ritual keselamatan lakukan untuk individu. 

 D. PARA PRAKTISI RITUAL 
Dapat dipastikan bahwa tidak semua orang dapat memimpin sebuah ritual. Pastinya ritual tersebut dipimpin oleh para anggota grup yang telah memperoleh semacam pelatihan khusus yang member mereka pengetahuan dan kekuatan yang tidak dibagi kepada para anggota grup lain. Para pemimpin ritual dalam tradisi keagaman yang bisa membaca berorientasi kepada semacam wujud supernatural yang dipersonalisasikan atau wujud-wujud yang disebut priest atau priestesses. Mereka berasal dari keluarga atau keturunan terpilih, meski apapun keahlian yang mereka miliki tidaklah secara langsung diwariskan namun harus dipelajari melalui kajian yang intensif. Priest dan Pristesses memimpin jama’ah dalam kegiatan berdo’a (memohon pertolongan kepada yang kuasa) dan member persembahan (memberi suguhan sebagai tanda syukur). 

E. KESIMPULAN 
Dari penjelasan di atas yang singkat, dapat disimpulkan bahwa praktek-praktek ritual adalah bentuk-bentuk system keagamaan yang bersifat universal. Praktek tersebut adalah instrument yang dengannya berbagai abstrak dari suatu system keyakinan diterjemahkan ke dalam ruang dan masa yang sakral. Ritual juga menyediakan forum di mana para pengikutnya masing-masing mengkomunikasikan gagasan-gagasan mereka dengan menyediakan saluran-saluran yang melaluinya manusia berhubungan dengan wujud supernatural. 

III. DAFTAR PUSTAKA 
Hadikusuma, Hilman. Antropologi Agama. Bandung: Citra Aditya Bakti, 1993 
Razak, Yusron. Nurtawarban, Ervan. Antropologi Agama. Jakarta: UIN Jakarta Press, 2007

Etos Kerja Muslim

Oleh: Drs. H. Ahmad Yani 

Kehidupan ekononi kita yang sulit sekarang ini, semangat kita dalam bekerja harus semakin dipupuk dan dikembangkan, bukan malah semangat mengemis atau meminta-minta yang kita kembangkan, masih banyak sebenarnya peluang bekerja untuk memenuhi nafkah diri dan keluarga kita selama kita masih punya kesungguhan untuk bekerja dan mempertahankan harga diri untuk tidak menempuh alternatif meminta-minta. bila ketaqwaan kita mantapkan, Allah Swt tidak hanya akan memberi peluang rizki yang tidak kita duga-duga, tapi juga akan memudahkan urusan-urusan yang kita hadapi. Keyakinan dan usaha yang maksimal memang merupakan modal yang sangat mahal harganya. 

Dalam dunai kerja modern, sebagai muslim kita harus memahami dengan baik etos dan etika kerja dalam pandangan Islam sehingga untuk merumuskan sebuah mekanisme kerja yang baik bisa kita gali dari kedalaman ajaran Islam sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw dan para pengikutnya yang setia. Nilai-nilai etos dan etika kerja seorang muslim itulah yang kemudian perlu kita bicarakan. 

1. Selalu Melakukan Perhitungan dan Perencanaan. 

Segala sesuatu harus diperhitungkan dan direncanakan secara matang, apa yang sudah dikerjakan dan apa yang akan dikerjakan dengan segala daya dukungnya merupakan hal-hal yang harus dilakukan. Perhitungan yang matang membuat seseorang dapat terhindar dari tindakan yang salah. Prinsip perencanaan yang baik adalah tawazun dalam arti rencana yang hendak dilakukan adalah yang memang memungkinkan, baik dari segi dana, waktu, tenaga, personil dan kepentingannya. Rasulullah Saw menghendaki agar kita bekerja untuk mencapai prestasi duniawi secara maksimal sehingga diumpamakan seperti orang yang akan hidup selamanya tapi juga harus meraih prestasi ukhrawi yang optimal hingga diumpamakan seperti orang yang hendak mati esok hari. Di dalam Al-Qur’an, Allah Swt juga menegaskan keharusan melakukan perencanaan yang matang, Allah berfirman yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS 59:18). 

2. Menghargai Waktu. 

Waktu merupakan anugerah besar yang diberikan Allah kepada kita. Seorang muslim yang memiliki etos kerja yang baik tentu menghargai waktu dengan selalu memanfaatkannya untuk hal-hal yang benar. Dengan waktu yang tersedia, target kerja ditetapkan dan direncanakan serta mencapai target dan mengevaluasinya. Dalam kerja seorang muslim harus berprinsip bekerja dengan rencana dan kerjakan rencana itu. Prinsip ini sangat penting agar jangan sampai seorang muslim bekerja tanpa perencanaan atau perencanaan tidak dikerjakan sebagaimana mestinya. Prinsip ini juga punya arti penting agar setiap kali melakukan perencanaan, maka rencana itu tidak muluk-muluk, tapi memang membuat rencana yang mungkin dikerjakan. Manakala perputaran waktu terabaikan dari aktivitas kerja yang shaleh, maka kerugian akan dialami seseorang, Allah berfirman yang artinya: Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh (QS 103:1-3). Dengan demikian, dalam kaitan menghargai waktu, seorang muslim harus mengefektifkan waktu kerjanya dengan sebaik mungkin, tidak suka menunda-nunda pekerjaan yang hendak dilakukan dan segera mengerjakan pekerjaan yang lain apabila telah selesai dalam melaksanakan suatu pekerjaan. 

3. Selalu Ingin Yang Terbaik. 

Etos kerja seorang muslim membuat dia tidak ingin berhenti dalam mencapai keberhasilan. Apa yang sudah dicapai merupakan sesuatu yang harus disyukuri, tapi dia tidak puas sampai disitu. Kepuasan terhadap sesuatu yang telah dicapai membuat seseorang berhenti sampai disitu, bahkan bila kepuasan tanpa iman bisa membawa kepada riya dan lengah sehingga dia hanya bertahan sampai disitu tanpa ada niat untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kerjanya. Seorang muslim selalu dituntut untuk meraih yang terbaik, ilmu yang banyak harus terus diperbanyak, prestasi yang tinggi harus disempurnakan dan begitulah seterusnya. Allah berfirman yang artinya: Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain (QS 94:7). 

4. Hemat. 

Cita-cita seorang muslim sangat tinggi nilainya, yakni terwujudnya nilai-nilai Islam yang mulia dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam nilai-nilai budaya kerja. Perwujudan ini merupakan perjuangan yang panjang dan berliku. Maka ibarat seorang pelari maratonj, mencapai tujuan ini harus diatur dengan baik, salah satunya adalah dengan menggunakan prinsip efektif dan efisien. Karena itu etos kerja seorang muslim membuat dia sangat efisien dan jauh dari prilaku boros, tidak hanya dalam masalah harta, tapi juga waktu, tenaga, sumber daya, fasilitas dan sebagainya, Allah berfirman: Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros, sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara syaitan dan syaitan itu sangat ingkar kepada Tuhannya (QS 17:26-27). 

5. Fastabikul Khairat. 

Etos kerja seorang muslim memacu semangat kompetitip sehingga seorang muslim itu sangat dituntut untuk ber-fastabikul khairat (berpacu dalam kebaikan). Kekurangan yang ada pada diri kita buhkanlah harus menjadi alasan untuk menyerah dan menerima apa adanya lalu menjadi fatalis yang tidak ada pikiran dan usaha untuk merubah keadaan dirinya. Oleh karena itu seorang muslim sangat dituntut untuk mengenal potensi diri, melatih dan mengembangkannya sehingga dia nanti dapat menentukan bidang apa saja yang harus digelutinya agar dia dapat berkarya dan berprestasi meskipun hanya dalam satu bidang. Itu sebabnya, seorang muslim tidak pantas kalau tidak ada satupun bidang yang dikuasai dan digelutinya. Keharusan kita berlomba-lomba dalam kebajikan dikemukakan Allah dalam Al-Qur’an yang artinya: Dan tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebajikan. Dimana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS 2:148). 

6. Bersikap Mandiri. 

Mandiri merupakan sesuatu yang penting dalam etos kerja seorang muslim. Sikap mandiri membuat seseorang memiliki keyakinan dan harga diri yang lebih, sehingga dia tidak terlalu memiliki ketergantungan pada orang lain dan dapat menentukan serta mengambil keputusan yang terbaik. Bila kemandirian tidak dimiliki, biasanya seseorang tidak berani untuk mengambil keputusan dan bingung bila menghadapi suatu persoalan. Kemandirian sikap kadangkala harus dimulai dari kemandirian ekonomi, hal ini apabila seseorang kehidupan ekonomi ditunjang oleh pihak lain, maka dia tidak bisa leluasa menunjukkan sikapnya, apalagi bila sikap itu bertentangan dengan keinginan yang memberikan tunjangan ekonomi. Kemandirian ekonomi ini dicontohkan oleh sahabat Abdurrahman bin Auf yang tidak mau diberi setengah harta dari Sa’ad bin Rabi di Madinah. Etos kerja yang tinggi dikalangan para sahabat membuat mereka berhasil dalam mengemban amanah, bahkan dalam usia mereka yang masih muda, banyak prestasi yang sudah dicapai, ini berarti pemuda muslim sangat dituntu untuk banyak berperan pada masa-masa mendatang dalam pengembangan etos kerja modern agar manajemen kerja betul-betul diwarnai dengan nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalam Islam.

Memberi Maaf Pada Lawan

Dikisahkan, suatu hari Rasulullah berkunjung dan melaksanakan shalat di kawasan Tha’if. Ketika orang-orang tak beriman mengetahuinya serta merta mereka melempari Rasulullah yang sedang bersujud. 

Mereka melempari Rasul dengan bebatuan dan kotoran onta sembari melontarkan caci-maki. Tiba-tiba malaikat Jibril datang untuk menawarkan pembelaan dengan cara akan menjatuhkan batu-batu dari gunung kepada kelompok yang telah menyakiti Rasulullah tadi. 

Seketika itu pula Rasulullah mencegah Jibril untuk tidak meneruskan niatnya, lalu Rasul pun berdoa: “Ya Allah, ampunilah dan berikanlah petunjuk kepada kaumku ini, karena mereka belum mengetahui (hakikat kebenaran)”. 

Kisah lainnya. Pada satu masa dalam satu peperangan, Nabi Muhammad berteduh di bawah sepohon kayu berlepas lelah, tiba-tiba datang seorang musuh bernama Du’tsur dengan pedang terhunus sambil berkata, “Siapakah yang bisa melepaskanmu dari pedang ini?” Nabi menjawab, “Allah!” Ketika itu terlepas pedang tadi dari tangan Du’tsur, lalu diambil oleh Nabi Muhammad sambil bertanya, “Siapakah pula yang akan dapat melepaskanmu dari pedang ini?” Du’tsur menjawab, “Tidak siapa-siapa” Maka Rasulullah memaafkannya dan waktu itu juga Du’tsur bersyahadat dan mengajak kaumnya memeluk agama Islam. 

Dalam kisah di atas Rasulullah begitu mulia. Beliau sangat pemaaf, sekalipun kepada orang yang berusaha menyakiti dan mencelakannya. Inilah wajah keberagamaan yang santun, arif, pemaaf, dan lapang dada. Teladan ini patut menjadi cermin bagi kita di saat banyak manusia telah kehilangan nilai-nilai kesantunan dan kearifan.

Popular Posts